Bank Indonesia sudah menjadi anggota penuh Project Nexus dan akan menyiapkan BI-FAST untuk terhubung ke jaringan tersebut. Target besarnya adalah membuat transfer lintas negara terasa lebih dekat dengan transfer instan dalam negeri: lebih cepat, lebih transparan, dan dapat dijangkau melalui sistem pembayaran yang sudah ada.
Namun, ini belum berarti pengguna BI-FAST bisa langsung mengirim uang ke semua negara peserta hari ini. Indonesia masih berada pada tahap persiapan dan implementasi. Bank Indonesia belum mengumumkan tanggal peluncuran untuk masyarakat, daftar bank yang pertama mendukung, biaya transfer, maupun koridor negara yang akan dibuka lebih dulu.
Ringkasnya: Indonesia sudah masuk jaringan Nexus sebagai anggota keenam. BI-FAST akan disiapkan untuk terhubung, tetapi layanan komersialnya belum diumumkan. Jadi, kabar ini adalah kepastian arah pengembangan, bukan tanda bahwa fiturnya sudah tersedia di aplikasi bank.
Apa itu Project Nexus?
Project Nexus berawal dari proyek BIS Innovation Hub untuk menghubungkan sistem pembayaran instan domestik dari beberapa negara dengan cara yang seragam. Di Indonesia, sistem domestik tersebut adalah BI-FAST. Negara lain mempunyai infrastruktur pembayaran instan masing-masing.
Tanpa jaringan bersama, operator pembayaran biasanya perlu membuat sambungan tersendiri untuk setiap negara tujuan. Nexus memakai pendekatan satu koneksi ke platform bersama. Setelah sistem suatu negara terhubung, sistem itu dapat menjangkau negara lain di dalam jaringan tanpa membangun integrasi bilateral baru untuk setiap pasangan negara.
BIS menyebut pembayaran melalui jaringan semacam ini dapat sampai dalam 60 detik pada sebagian besar kasus. Itu adalah sasaran rancangan Nexus, bukan jaminan bahwa setiap transfer dari Indonesia nantinya selalu selesai dalam waktu yang sama. Pemeriksaan kepatuhan, bank yang digunakan, jam pemrosesan tertentu, dan kesiapan koridor tetap dapat memengaruhi transaksi.
Siapa saja yang berada di jaringan Nexus?
Nexus Global Payments didirikan pada 2025 oleh bank sentral India, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand untuk membawa rancangan Nexus menuju implementasi nyata. Indonesia sebelumnya berstatus pengamat khusus, lalu diumumkan sebagai yurisdiksi keenam pada Februari 2026.
Setelah menjadi anggota penuh, Bank Indonesia akan bekerja bersama Nexus Global Payments untuk menyiapkan BI-FAST agar kompatibel dengan jaringan. Bank Indonesia juga menegaskan bahwa kliring dan penyelesaian transaksi domestik tetap dilakukan di dalam negeri. Artinya, konektivitas internasional tidak menghapus pengelolaan domestik atas bagian transaksi yang berlangsung di Indonesia.
Apa dampaknya bagi pengguna di Indonesia?
Dampak paling mudah dirasakan nantinya ada pada cara mengirim dan menerima dana antarnegara. Jika implementasi berjalan sesuai rancangan, pengguna tidak perlu memahami jalur perbankan koresponden yang rumit. Pengirim cukup memakai layanan dari bank atau penyedia pembayaran yang ikut mendukung Nexus.
Beberapa manfaat yang dituju antara lain:
- waktu transfer lintas negara yang lebih singkat;
- informasi biaya dan nilai tukar yang lebih jelas sebelum transaksi disetujui;
- akses yang lebih sederhana bagi pekerja migran dan keluarga penerima remitansi;
- penerimaan pembayaran usaha yang lebih cepat untuk transaksi dengan mitra di negara peserta.
Manfaat tersebut tetap bergantung pada aturan akhir, bank peserta, mata uang, dan negara tujuan. Belum ada dasar untuk menyimpulkan bahwa transfer melalui Nexus akan gratis atau selalu lebih murah daripada semua layanan remitansi yang sudah tersedia.
Contoh penggunaan yang mungkin relevan
Seorang pekerja Indonesia di salah satu negara peserta, misalnya, berpotensi mengirim uang ke rekening keluarga di Indonesia melalui jalur pembayaran instan yang saling terhubung. Pelaku usaha juga dapat menerima pembayaran dari pembeli atau mitra di negara anggota tanpa menunggu proses transfer antarbank konvensional yang lebih panjang.
Namun, contoh tersebut menggambarkan arah penggunaan, bukan petunjuk transaksi yang sudah dapat dicoba. Nama menu, batas nominal, biaya, kurs, bank peserta, dan mekanisme pengaduan baru dapat dipastikan setelah Bank Indonesia dan penyedia layanan mengumumkan peluncuran resmi.
Bedanya Nexus dengan QRIS antarnegara
QRIS antarnegara berpusat pada pembayaran menggunakan kode QR di merchant. Pengguna memindai QR saat berbelanja, lalu aplikasi memproses pembayaran lintas mata uang melalui koneksi yang tersedia. Contohnya dapat dilihat pada koneksi QRIS Indonesia-Korea.
Nexus berfokus pada hubungan antarsistem pembayaran instan. Penggunaan yang dituju lebih luas untuk perpindahan dana dari pengirim ke penerima, termasuk remitansi dan transfer antar rekening. Keduanya sama-sama mendukung pembayaran lintas negara, tetapi jalur dan kebutuhan penggunanya berbeda.
Apa yang perlu diperiksa saat layanan diluncurkan?
Jangan hanya melihat kata “instan”. Sebelum mengirim uang, periksa biaya total, kurs yang digunakan, nominal yang diterima, nama penerima, serta jalur pengaduan jika dana tertunda. Pengirim juga perlu memastikan bank dan negara tujuan memang sudah aktif di jaringan, bukan sekadar termasuk dalam rencana implementasi.
- Gunakan pengumuman resmi Bank Indonesia atau bank Anda untuk mengecek ketersediaan.
- Bandingkan jumlah akhir yang diterima, bukan hanya biaya transfer di awal.
- Periksa kembali identitas penerima sebelum menyetujui transaksi.
- Simpan bukti transfer dan nomor referensi sampai dana diterima.
- Waspadai pihak yang menawarkan “akses awal” melalui tautan atau aplikasi tidak resmi.
Belum ada tanggal layanan untuk pengguna
Keanggotaan penuh Indonesia memberi dasar yang lebih kuat untuk menghubungkan BI-FAST ke Nexus. Meski begitu, pekerjaan teknis, aturan operasional, kesiapan penyedia pembayaran, pengelolaan risiko, dan pembukaan koridor masih harus diselesaikan.
Sampai ada pengumuman lanjutan, masyarakat tidak perlu mendaftar atau mengaktifkan fitur apa pun. Langkah yang masuk akal adalah menunggu informasi dari Bank Indonesia dan bank yang digunakan. Klaim tentang biaya, batas transfer, atau tanggal peluncuran yang tidak merujuk pada pengumuman resmi sebaiknya tidak langsung dipercaya.
